Mengapa Kita Hidup Pertanyaan Abadi
proclinicperditadipeso-Pertanyaan “Mengapa kita hidup?” merupakan salah satu pertanyaan paling mendasar dan abadi dalam sejarah umat manusia.Sejak manusia mulai berpikir secara reflektif, pertanyaan ini muncul dalam berbagai bentuk: mengapa aku ada di sini?apa tujuan hidupku?, untuk apa semua ini? Pertanyaan ini bukan hanya milik filsuf, teolog, atau ilmuwan—ia muncul di hati setiap orang, terutama di saat-saat sunyi, kehilangan, atau pencapaian besar.
Perspektif Filsafat: Dari Nihilisme hingga Eksistensialisme
Filsafat Barat memberikan jawaban yang beragam dan sering bertentangan. Friedrich Nietzsche menyatakan bahwa “Tuhan telah mati”,
kita harus menjadi “Übermensch” yang menciptakan nilai-nilai baru.
Jean-Paul Sartre, tokoh eksistensialisme, lebih tegas: “Kehidupan tidak memiliki makna bawaan. Manusia dikutuk untuk bebas.
Perspektif Agama dan Spiritualitas
Hampir semua tradisi agama memberikan jawaban yang lebih pasti tentang tujuan hidup.Dalam Islam, manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah (QS. Adz-Dzariyat: 56). Hidup adalah ujian,
Dalam Kristen, tujuan hidup adalah mengenal Allah, mencintai-Nya, dan menikmati-Nya selamanya (Westminster Catechism).
Hindu melihat hidup sebagai bagian dari siklus samsara (kelahiran-kematian-kelahiran kembali). Tujuan utama adalah mencapai moksha—pembebasan dari siklus tersebut melalui dharma (kewajiban),
Budha mengajarkan bahwa penderitaan (dukkha) muncul dari keterikatan. Tujuan hidup adalah mencapai nirwana—keadaan bebas dari penderitaan melalui Jalan Mulia Berunsur Delapan.